Tag Archive for 3gp
Video-Maharaja Lawak-Jozan
Macam Mana Nak Tahu Perempuan Masih Dara
Macam Mana Nak Tahu Perempuan Masih Dara
Macam mana nak tahu perempuan masih dara? Soalan ni selalu bermain di dalam fikiran lelaki. Sebelum seseorang lelaki menanyakan soalan itu, ia perlu ditanyakan pada dirinya sendiri. Adakah aku masih teruna? Sebaik sahaja tahu jawapannya, baru bertindak memikirkan”soalan macam mana nak tahu perempuan masih dara”, atau sebaliknya.. ![]()
Macam Mana Nak Tau Perempuan Masih Dara?
Sebenarnya ada dua cara (teknikal) anda nak tau perempuan itu masih dara atau tidak.
1. Buat pemerikaaan buah dada perempuan itu.
2. Buat pemeriksaan vagina perempuan itu.
Takkan anda nak pergi periksa vagina dia pula kan? Anda nak periksa buah dada dia? Anda bukan tahu nak periksa, nanti lain pulak yang jadinya. Itu yang masalahnya. Anda perlu membawa si dia berjumpa dengan doktor untuk mengesahkan status daranya.
Adakah anda sanggup buat macam tu? Tak mungkin saya rasa. Anda seorang yang taksub kepada dara jika anda buat demikian. Sedangkan anda belum tentu lagi teruna. hahaha..
Jalan yang paling senang untuk menyelesaikan kemelut anda yang “taksub kewujudan dara perempuan” ialah dengan hanya dua cara iaitu..
1. Dia sendiri mengaku.
2. Anda sendiri tanya.
Selesai masalah anda, jangan peningkan kepala anda yang dah memang berserabut tu.
Rujukan: Yahoo Answer
Incoming search terms:
- macam mana nak tahu dara
- macam mana nak tahu perempuan masih dara
- nak tahu dara
- cara nak tahu gadis tiada dara
- anda masih dara
- dara perempuan
- tiada dara
- macam mana nak pujuk wanita buat hubungan seks
- masih dara
- wanita tiada dara
Cerita Dewasa Seks Aku diperkosa adik iparku sendiri
Cerita dewasa seks yang ingin coba aku bagi dalam cerita sex kali ini adalah cerita dewasa yang cukup memilukan hati. Aku telah diperkosa oleh adik iparku sendiri. Sebelum memulai cerita seks ini aku perkenalkan namaku Namaku Elly. Usiaku kini 23 tahun. Aku sudah menikah dengan Albert yang kini berusia 25 tahun, dan kini aku adalah seorang ibu muda, dengan seorang anak yang baru berusia 6 bulan yang kami beri nama Michael. Sejak pacaran dan menikah sampai sekarang ini, suamiku sering berpergian ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Aku sendiri adalah wanita yang mendapat karunia wajah yang cantik, itu menurut teman temanku. Aku memiliki rambut yang lurus dan panjang sampai sebahu. Tubuhku sudah kembali ramping dan indah seperti pujian suamiku, meskipun aku baru melahirkan setengah tahun yang lalu. Mungkin hal itu karena aku rajin mengikuti senam aerobik, dan memang aku menjaga pola makan supaya badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga karenanya.
Aku sendiri tidak bekerja di luar, karena suamiku memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Dan memang suamiku ingin aku menjadi ibu rumah tangga yang baik saja, dengan tinggal di rumah untuk merawat anak kami dengan baik. Kehidupan seks kami juga luar biasa. Suamiku adalah lelaki perkasa di tempat tidur, dan aku sungguh menikmati kehidupanku ini. Kini kalau suamiku tak ada di rumah, aku hanya tinggal dengan anakku, juga pembantu kami yang kupanggil bi Iyem, satpam kami yang bernama Adrian, tukang kebun kami yang bernama pak Jono, dan juga sopir kami yang bernama Sarman. Di usiaku yang sekarang ini, nafsu seksku tentu sedang tinggi tingginya. Ditinggal oleh suamiku bekerja seperti ini, kadang aku amat merindukan bermain cinta dengannya. Demikian sekilas tentang keadaanku dan keluargaku.
Hari itu hari Sabtu. Siang hari itu, aku menerima telepon dan aku terkejut dengan berita yang aneh. Aku mendapatkan hadiah sebuah mobil lewat undian sebuah produk. Dan seingatku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian itu.
Dengan santai aku berkata, “Pak, terserah bapak mau bicara apa, tapi saya tak akan pernah mentransfer uang apapun untuk pajak atau yang lain”.
Dan orang itu berkata panjang lebar, “Ibu Elly, kami memaklumi kalau ibu berhati hati, memang kami tak menyuruh ibu membayar apapun, karena pajak hadiah ditanggung oleh kami. Kami akan mengantarkan hadiah itu langsung ke rumah ibu sekitar satu jam lagi. Gratis bu, tak dipungut biaya apapun. Ibu boleh mencobanya, kalau ternyata mobilnya bermasalah kami langsung mengganti dengan yang baru. Tapi itu tidak akan terjadi bu, karena kami sudah melakukan More…pemeriksaan terhadap mobil ini”.
Mendengar hal ini, aku hanya bisa mengangkat bahu dan berkata, “Ya terserah bapak. Maaf, dengan bapak siapa saya bicara?”.
Dan orang itu menjawab, “Dengan bapak Anto. Ibu bisa menghubungi kantor kami di nomer *** ****. Aku mengiyakan saja dan kemudian memutus pembicaraan. Dalam hati aku merasa aneh, tapi ya kalau gratis, apa salahnya?
Kulihat sekarang ini adalah jam 1 siang. Aku baru selesai makan siang, maka aku menyusui dan menidurkan anakku, supaya nanti ketika aku pergi aku tak begitu kuatir. Dan memang satu jam kemudian aku mendengar bel rumahku berbunyi, dan ketika aku keluar, aku melihat sebuah mobil Kijang Innova keluaran terbaru, dengan cat yang mulus mengkilap. Di belakangnya berhenti sebuah mobil Kijang pickup. Mungkin untuk mereka yang mengantar mobilku ini pulang nanti. Aku agak terkejut juga, berarti mungkin ini benar. Seseorang turun dari mobil pickup itu, sementara orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah menyapaku.
“Bu Elly? Saya Anto”, kata orang yang bernama Anto itu sambil mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya dengan sedikit perasaan ragu dan menjawab “Elly”.
Orang itu memang penampilannya rapi. Tapi wajahnya agak seram. Aku mencoba membuang semua pikiran negatif. Dan kemudian orang satunya yang berpenampilan biasa biasa, yang juga berwajah biasa biasa, menjabat tanganku.
“Seto”, katanya.
Aku menjabat tangannya dan menjawab, “Elly”.
Setelah acara kenalan yang menurutku hanya formalitas ini, kami duduk di teras rumah, dan aku disodori formulir yang aku baca di bagian awal dan akhir saja, untuk memastikan aku tak keluar uang apapun untuk mendapatkan hadiah ini. Lalu Anto menawarkan padaku untuk mencoba mobil itu, karena nantinya aku harus mengisi formulir untuk memberikan ‘penilaian’ tentang kondisi mobil itu, sebelum acara serah terima surat kendaraan dilakukan. Aku setuju saja, dan aku menerima kunci mobil itu dari Anto. Aku masuk ke dalam mobil itu, joknya masih terbungkus plastik semua, baunya khas mobil baru. Dan dengan didampingi mereka, aku mulai mencoba mobil itu.
Semua baik baik saja, sampai tiba tiba di sebuah gang yang sepi di dekat rumahku, Anto yang duduk di kursi depan menarik handbrake. Aku terkejut sekali, sampai lupa menginjak pedal kopling dan mesin mobil ini mati. Aku menoleh kepada Anto, tapi belum sempat aku bertanya, dari belakang aku dibekap, oleh Seto tentunya. Kurasakan bau yang menyengat, dan tak lama kemudian semuanya gelap…
Perlahan aku mulai sadar. Aku mengeluh perlahan, ketika aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang. Sakit rasanya. Aku mulai mencoba mengerti apa yang terjadi pada diriku. Ternyata kedua pergelangan tanganku yang terentang ini, terikat erat pada semacam pilar di ruangan ini. Sedangkan aku sendiri terbaring di atas matras. Yang membuatku tercekat, aku sudah tak mengenakan apa apa lagi selain bra dan celana dalamku. Kakiku memang masih bebas, tapi apa artinya? Aku kini sudah tak berdaya dengan tangan yang terpasung seperti ini. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku. Aku mulai menyesali kebodohanku tadi, mengapa bisa terjebak dengan iming iming hadiah itu.
Tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, lalu masuk seseorang yang membuatku ternganga tak percaya pada pengelihatanku.
“Arman?”, seruku tak percaya.
“Halo Elly… lama tak jumpa… bagaimana kabarnya?”, kata Arman dengan senyum yang membuat hatiku dingin seperti disiram air es. Aku takut sekali.
“Arman… apa yang kamu lakukan ini? Ingat Arman, aku ini kakak iparmu. Tolong lepaskan aku..”, aku mencoba menyadarkan Arman walaupun aku tahu ini mungkin sekali merupakan hal yang sia sia.
Aku tahu Arman memang menginginkan aku sejak aku dikenalkan Albert pada keluarganya. Arman adalah adik Albert yang kini berusia 24 tahun. Wajahnya memang cukup tampan. Dan sejak ia mengenalku, ia sudah beberapa kali mencoba mendekatiku, tapi tentu saja aku tak memberinya respon. Suatu hari ketika aku berkunjung ke rumah Albert saat masih tinggal bersama keluarganya, Arman nekat dan nyaris berhasil memperkosaku. Untung saja waktu itu kepulangan Albert menyelamatkanku, dan sejak itu aku tahu aku harus menghindari orang ini. Tapi kini aku sudah jatuh ke dalam tangannya. Tanpa sadar aku bergidik ngeri.
Mendengar kata kataku, Arman hanya tertawa. Ia mendekatiku dan ‘krek…’. Arman merenggut braku hingga tali talinya putus.
“Aduh…”, aku mengeluh perlahan, sedikit sakit rasanya pada bagian tubuhku yang tertekan tali braku saat ditarik Arman. Aku memejamkan mataku erat erat, malu sekali rasanya payudaraku terlihat oleh laki laki lain selain suamiku.
“Elly… Elly… kamu kira aku segoblok itu sudah bersusah payah menjebakmu seperti ini dan melepaskan kamu begitu saja? Hahaha… aku belum gila, Elly”, kata Arman sambil menyeringai mengerikan saat aku menatapnya dengan marah bercampur takut.
“Arman, kamu gila… lepaskan aku!!”, aku mulai panik dan membentaknya.
‘breeet… breeet’… seruanku dijawab Arman dengan merenggut robek celana dalamku, hingga kini aku sudah telanjang bulat.
Aku menjerit kecil. Kini aku hanya bisa memandangi Arman dengan jantung berdebar ketika ia mulai melucuti pakaiannya sendiri. Sesekali aku mencoba meronta, tapi tak ada hasil sama sekali karena aku benar benar tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang lebar. Aku tahu, nasib yang buruk akan segera menimpaku, dan perlahan aku mulai menangis.
“Lho sayang… kok nangis sih? Tenang saja, sebentar lagi kamu juga akan keenakan kok”, ejek Arman yang sudah bersiap di selangkanganku.
Aku semakin ngeri, dengan suara gemetar aku memohon, “Arman, tolong jangan begini… aku ini kakakmu… kakak iparmu… masa kamu tega berbuat begini padaku…”.
Arman tertawa sinis dan berkata dengan suara kasar, “Diam Elly. Kamu telah merendahkanku. Kamu selalu menolakku. Kamu tak pernah menghargai aku”.
Aku sadar kalau aku memang selalu menjaga jarak dengannya, karena aku merasa ia berbahaya. Dan kini memang semuanya terbukti kan?
Dan sambil merenggangkan kedua pahaku lebar lebar, Arman melanjutkan, “Kamu tak pernah mau aku ajak pergi makan berdua. Kamu anggap aku tak layak pergi berdampingan bersamamu. Benar benar perempuan sombong! Karena itu sekarang rasakan pembalasanku!”.
Berkata begitu, Arman menempelkan kepala penisnya ke bibir liang vaginaku. Aku makin panik dan berusaha menggerakkan pinggulku menghindari hunjaman penis Arman saat Arman mulai memajukan pinggulnya.
Berhasil, penis itu tak sampai melesak masuk menerobos liang vaginaku.
Tapi rupanya Arman marah dengan perbuatanku, ia menamparku dengan keras, hingga aku mengaduh dan menangis kesakitan.
“Jangan coba coba lagi Elly, atau nanti kamu akan kuberikan pada dua kacungku di depan itu!”, ancam Arman dengan suara yang mengerikan.
Mendengar hal itu aku langsung melemas dan pasrah, di sela tangisanku, aku hanya bisa mengumpat getir, “Kamu gila.. Arman”.
Arman hanya tertawa dan aku hanya bisa membiarkan kepala penis Arman menemukan bibir liang vaginaku, dan sesaat kemudian aku mengerang kesakitan saat liang vaginaku tertembus oleh batang penis Arman.
Aku mulai menangis saat Arman memompa liang vaginaku. Walaupun aku sudah pernah melahirkan, tapi berkat senam dan ramuan khusus, liang vaginaku kembali menyempit. Konsekuensinya, kini aku merasa kesakitan karena liang vaginaku dipompa penis Arman yang cukup besar.
Aku memalingkan mukaku supaya tak melihat wajah Arman yang kesenangan karena berhasil mendapatkan tubuhku. Ia meremasi kedua payudaraku dengan gemas, seolah melampiaskan segala nafsunya yang tak kesampaian untuk menikmati tubuhku sejak dulu. Sedangkan aku sendiri hanya bisa terus menggeliat kesakitan.
“Elly… punyamu enaak”, erang Arman dengan tatapan penuh gairah padaku sambil terus menggenjotku.
Ingin aku menamparnya, tapi kedua tanganku tak bisa kugerakkan. Aku hanya bisa merelakan liang vaginaku ditembusi oleh laki laki yang harusnya memperlakukanku sebagai kakak iparnya. Tapi Arman memang sudah kesetanan, ia mulai mencumbuiku dengan sangat bernafsu. Bibirku dilumatnya dengan ganas, sementara kedua payudaraku diremasnya dengan kuat.
Perlahan aku mulai terangsang karena perbuatan adik iparku ini, rasa terhina karena diperkosa mulai berganti dengan rasa nikmat yang melanda selangkanganku dan juga sekujur tubuhku.
Rupanya vaginaku sudah mampu beradaptasi dengan ukuran penis Arman yang tadinya terasa begitu menyesakkan. Aku malu sekali, ingin rasanya aku menyembunyikan wajahku yang terasa panas ini. Tapi tentu saja hal itu tak bisa kulakukan, maka aku hanya bisa pasrah namun mati matian berusaha menahan diri supaya tak kelihatan menikmati hal ini.
Tapi sayangnya, tubuhku terlalu jujur, perlahan tanpa mampu kucegah, pinggangku terangkat saat aku menahan nikmat yang luar biasa. Kurasakan penis Arman melesak begitu dalam ketika ia menghunjamkan kuat kuat kedalam liang vaginaku, membuatku menggeliat keenakan seperti cacing kepanasan.
Arman tertawa sinis dan mulai menghinaku, “Ternyata kamu menikmati punyaku juga Elly. Makanya kamu jadi cewek jangan sok suci.. hahaha.. kalau sudah kemasukan gini, toh kamu keenakan juga..”.
Sambil menghinaku Arman terus memompa liang vaginaku dengan gencar. Aku sudah tak tahu apa yang harus kulakukan, karena perlahan tapi pasti aku sedang diantar menuju orgasme.
“Arman… oohh… sudaah… ampuuun… ennngghh”, aku mulai mengerang dan melenguh.
“Kenapa El? Enak ya?”, ejek Arman dan malah makin gencar memompa liang vaginaku.
“Kamu…”, aku tak bisa menjawab, tubuhku menggigil, selangkanganku serasa akan meledak.
Aku terus mengerang dan melenguh, sampai akhirnya aku mengejang hebat, kepalaku terlempar ke sana kemari karena aku menggelepar dihantam badai orgasme ini.
“Oh Elly… kamu cantik sekali kalau seperti ini”, desah Arman yang tak menunjukkan tanda tanda akan orgasme, sementara aku sendiri sedang menderita dalam kenikmatan orgasme yang berkepanjangan ini, dan nikmatnya selangkanganku yang terus dipompa Arman semakin menjadi jadi.
Namun rasa ngilu mulai menghampiri liang vaginaku, dan makin lama rasa itu makin menderaku.
Aku sudah tak kuat lagi, dan berteriak “Armaaan… aaaaah… hentikaaaan… amppuuuun…”.
Ia benar benar perkasa seperti suamiku, hanya saja suamiku lebih pengertian, membiarkanku beristirahat kala aku mengalami orgasme. Sedangkan Arman sama sekali tak memperdulikan keadaanku, ia hanya mencari kenikmatannya sendiri.
Aku makin menderita dalam kenikmatan ini, rasanya tulang tulang di dalam tubuhku terlepas semua dari sambungannya, sementara tubuhku meliuk liuk dan menggelepar terhempas badai orgasme yang terus menerus ini. Entah cairan cintaku sudah membanjir berapa banyak, aku mulai pening dan tak mampu mengerang lagi. Dengan kejam Arman terus memompa liang vaginaku, sampai akhirnya ruangan ini rasanya berputar, semuanya gelap…
Ketika aku mulai sadar, kurasakan kedua puting susuku seperti ada yang mengulum dan menyedoti dengan kuat. Vaginaku masih terasa sedikit sakit, tapi sudah tak terasa sesak, artinya Arman sudah selesai memompa liang vaginaku. Becek sekali rasanya liang vaginaku, aku tahu si brengsek itu pasti mengeluarkan spermanya di dalam sana. Untungnya aku sedang dalam masa tidak subur, jadi aku tak perlu takut hamil. Tapi kini aku sadar, ada dua orang sekaligus yang mengulum puting susuku, yang berarti ada orang lain selain Arman. Dan aku mulai mengenali mereka berdua ini, bahkan Arman bukan salah satu dari mereka. Ternyata Anto dan Seto yang kini sedang menyusu pada kedua payudaraku.
“Jangaaaan”, aku menjerit ngeri.
Aku tak bisa berbuat apa apa, kedua tanganku yang terentang ini tak bisa kugerakkan sedikitpun, sementara mereka berdua dengan santai meneruskan perbuatan mereka.
“Lepaskan aku… Armaaan kamu bajingaaaan…”, aku mengumpat dalam keputus asaanku.
Dan kudengar tawa yang membuatku bergidik ngeri. Kemudian aku melihat Arman masuk, dan memegang handycam.
Ia merekamku! Merekamku yang sedang pasrah tak berdaya saat kedua puting susuku disedot oleh kedua kacungnya.
“Biadab kamu Arman… Kamu kan sudah janji..”, aku langsung terdiam.
Bajingan ini memang tak pernah berjanji apa apa.
“Kenapa Elly? Kok diam? Apa aku salah? Aku memang tak pernah berjanji kalau kamu tak akan kuberikan pada mereka bukan? Hahahaha…”, Arman tertawa dengan memuakkan.
Aku hanya bisa menangis. Habislah aku, aku sudah dalam cengkeraman Arman sepenuhnya. Entah seperti apa nasibku di hari hari berikutnya. Sementara kedua kacung Arman ini tertawa senang, dan mereka kembali mencucup kedua puting susuku dengan bersemangat, tak lupa tentunya mereka juga meremasi payudaraku.
Beberapa saat kemudian, dengan gaya yang menjijikkan, mereka membuka mulut mereka yang penuh air susuku ke arah kamera.
“Wow.. air susu Elly”, kata Arman sambil menyorot mulut kedua kacungnya.
Kedua orang itu menelan air susuku.
“Bagaimana rasanya Anto? Seto? Enak tidak?”, tanya Arman penasaran.
“Gurih abis bos, susu amoy gini”, kata Anto.
“Lebih enak dari susu sapi”, sambung Seto.
Kurang ajar sekali mereka ini. Dan Arman kelihatannya penasaran, lalu ia menaruh handycamnya.
“Aku juga ingin coba”, gumannya.
Ia mendekati payudaraku, dan setelah memberikan beberapa jilatan yang membuatku mau tak mau merasa terangsang, tiba tiba ia sudah mencucup puting susuku. Beberapa sedotan dilakukannya, sementara aku hanya bisa mendesah keenakan.
“Bos, susunya diremas”, kata Anto.
“Bisa tambah banyak keluarnya”, Seto menyambung.
Maka Arman menyedot puting susuku sambil meremasi payudaraku. Aku sedikit menggeliat kesakitan. Ia terus melakukannya sampai puas, sementara aku hanya bisa menggigil menahan nikmat.
“Susu yang enak, Elly”, kata Arman dengan nada puas.
“Nanti aku minta lagi”, sambungnya sambil kembali mengambil handycamnya.
“Lanjutkan”, perintah Arman pada Anto dan Seto.
Mereka berdua yang sudah melepaskan semua baju mereka hingga telanjang bulat selagi menunggu Arman mencicipi susuku. Mereka tentu saja kembali mengerubutiku dengan kesenangan.
Handycam itu kembali merekamku. Kini Anto dan Seto berniat memuaskan diri mereka sendiri, bisa terlihat dari mereka mengocok penis mereka sendiri untuk makin menegangkan ereksi penis mereka. Melihat ukuran penis mereka berdua ini, aku makin ngeri. Baik panjang maupun diameternya semuanya lebih dari ukuran milik Arman.
Aku berusaha mematikan semua perasaanku. Kini aku digumuli oleh dua kacung si Arman. Kedua pahaku dilebarkan oleh Anto. Aku masih terlalu lemas untuk mencoba menghindar.
Akibatnya, bless… kembali liang vaginaku tertusuk oleh sebatang penis.
Aku menggigit bibir, menahan segala perasaan malu dan sakit ini, air mataku terus mengalir. Handycam yang dipegang Arman terus menyorot ke arah vaginaku yang sedang dipompa oleh Anto. Mukaku rasanya panas sekali membayangkan aku sedang membintangi film porno amatir ini.
Perlahan Arman mengarahkan sorotan handycamnya ke arah tubuhku bagian atas, dan sempat berhenti agak lama ketika menyorot kedua payudaraku. Seto sempat meremasi kedua payudaraku dan semua itu disorot oleh Arman. Sementara itu tubuhku harus terus menggeliat karena menerima rangsangan dua orang sekaligus. Liang vaginaku dipompa dengan gencar oleh Anto sementara kedua payudaraku diremas dengan gemas oleh Seto. Aku sendiri antara mendesah keenakan dan merintih kesakitan. Liang vaginaku masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan ukuran penis Anto, tapi sudah mendatangkan nikmat yang membuatku serasa melayang.
“Sudah… hentikaaan…”, aku mengerang dan mulai menggelepar, karena kurasakan liang vaginaku kembali ngilu dipompa segencar itu.
Anto sendiri kelihatannya sudah akan berejakulasi, tubuhnya bergetar hebat saat menggenjotku, dan tak lama kemudian ia mengerang panjang dan meneriakkan namaku, “Ooouuuhhh… bu Ellyyy…”.
Tubuhnya berkelojotan di atasku, dan kurasakan penisnya berdenyut keras di dalam sana. Beberapa semprotan lahar panas kurasakan membasahi liang vaginaku, dan Arman segera bergerak ke tempat yang bagus untuk menyorotan handycamnya ke arah vaginaku. Kurasakan Anto mencabut penisnya perlahan, dan Arman terus menyorot daerah vaginaku, aku malu sekali. Gejolak yang sempat membuatku hampir orgasme kini mereda. Tapi gilanya, si Seto langsung bersiap menggilirku, ia sudah mengarahkan penisnya ke liang vaginaku. Aku memang tak bisa apa apa, hanya bisa menggigit bibir saat kurasakan liang vaginaku tertusuk oleh penisnya Seto. Hanya saja sekarang rasanya tak begitu sakit, dan setelah beberapa genjotan, Arman menyorot mukaku, karena si Anto sudah menempelkan penisnya ke mulutku.
“Elly, ayo kulum”, perintah Arman.
Aku hanya bisa menurut, toh aku sudah tak ada gunanya lagi membantah. Daripada aku mendapat tamparan atau siksaan lain, aku lebih baik mengikuti kemauan bedebah ini. Perlahan kubuka mulutku, dan penis Anto yang masih belepotan sperma dan cairan cintaku, menerjang masuk ke dalam mulutku. Rasanya amis dan asin, membuatku ingin muntah. Tapi aku berusaha tak memikirkan rasanya, dan ingin cepat menyelesaikan tugasku. Aku terus mengulum penis si Anto ini, kubersihkan cepat cepat dan kutelan semua sisa spermanya dan cairan cintaku sendiri. Anto yang sudah tak tahan mengerang panjang dan menarik penisnya dari mulutku.
Penderitaanku belum selesai.
“Buka mulutmu, Elly”, perintah Arman sambil menyorotkan handycamnya ke mulutku.
“Perlahan!”, perintahnya lagi.
Aku mulai membuka mulutku perlahan, dan Arman terus menyorot mulutku.
“Bagus”, katanya dengan puas.
Aku malu sekali, pasti aku terlihat layaknya seorang wanita nakal dalam handycam itu. Tak lama kemudian tubuhku terguncang guncang, rupanya Seto mulai menikmati liang vaginaku. Dengan bersemangat ia menggenjot liang vaginaku, sementara aku tak tahu bagaimana sekarang raut wajahku saat menahan malu dan nikmat dan disorot oleh handycam milik Arman. Panas sekali wajahku rasanya, untungya Arman kemudian ganti menyorot tubuhku bagian bawah. Kini aku tinggal memusatkan perhatianku pada si Seto.
Diam diam aku melakukan gerakan kegel, sejenis gerakan menahan buang air kecil, sambil pura pura merintih keenakan, supaya Seto cepat ejakulasi dan semua ini segera berakhir. Sesuai harapanku, tak lama kemudian Seto yang terangsang habis habisan, melolong lolong dan meneriakkan namaku.
“Aaaaarrrrghh… Bu Ellyyyyy…”, jeritnya dan kemudian ia menarik penisnya, tentu saja setelah di dalam sana liang vaginaku dibasahi lahar panasnya.
Arman dengan giat terus menyorot liang vaginaku yang tentunya tak mampu menampung sperma kedua pemerkosaku ini. Jari tangannya ditusukkan ke liang vaginaku mengorek sisa sperma Anto dan Seto. Seto sendiri segera beranjak ke arah wajahku, aku tahu ia hendak menagih jatah servis oral dariku.
Seperti tadi, Arman yang buru buru mengarahkan handycamnya ke wajahku memberikan instruksi instruksi padaku hingga membuatku kembali terlihat seperti pelacur. Tapi aku hanya bisa menurutinya, walaupun dengan hati pedih.
Setelah semua selesai, Arman mematikan handycamnya.
“Arman, sudah, lepaskan aku… please”, aku memohon.
Tapi Arman tak menjawab, malah ia dengan bernafsu melihat ke arah payudaraku.
Aku langsung tersadar dan teringat keinginan Arman tadi, yaitu ingin merasakan air susuku lagi.
Dan memang benar, Arman segera melumat puting susuku, ia menyedot susuku sepuas puasnya. Aku mendesah keenakan, memang rasanya nikmat sekaligus amat merangsangku. Aku menggigit bibir, apalagi Anto ikutan melakukan hal yang sama pada puting susuku yang sebelah. Kini dua orang dewasa menyusu pada kedua payudaraku seperti bayi, dan aku hanya bisa memejamkan mata berharap mereka segera selesai.
Aku melamunkan suamiku… maafkan aku Albert… aku bahkan sempat orgasme ketika diperkosa adikmu…
Tak terasa sampai si Seto juga sudah puas menyusu, dan akhirnya ikatanku dilepaskan. Lega rasanya, walaupun terasa sakit pada bekas ikatan di kedua pergelangan tanganku. Aku duduk dan mengurut kedua pergelangan tanganku, dan aku memandang Arman dengan benci sekaligus takut, karena dengan rekaman handycam itu, ia pasti akan menggunakannya untuk mengancamku agar menurutinya kelak kalau ia menginginkan tubuhku lagi. Ia tersenyum dengan penuh kemenangan ketika bersama dua kacungnya melihat hasil rekaman film porno tadi.
Aku malu sekali, dan aku mencari cari pakaian luarku yang ternyata berserakan tak jauh dari tempat aku digangbang tadi.
“Sudah puas kalian?”, bentakku dengan jengkel dan menahan tangis.
Aku memakai pakaianku tanpa bra dan celana dalam. Keduanya memang sudah tak bisa aku pakai karena tadi direnggut paksa dari tubuhku hingga robek. Mereka tertawa tawa dan beberapa saat lamanya mereka menonton rekaman pemerkosaan terhadap diriku, kemudian Arman mematikan handycamnya. Ia menghampiriku dan tiba tiba melumat bibirku.
Aku menarik wajahku ke belakang untuk melepaskan diri dari ciumannya, lalu aku menamparnya, keras sekali.
“Bajingan kamu Arman! Kamu tega sekali melakukan ini semua… sekarang antarkan aku pulang!”, kataku lirih, sambil menangis.
Arman mengelus pipinya yang baru kutampar keras itu dan memandangku dengan aneh. Aku bergidik ditatap oleh Arman seperti itu. Lalu Arman melangkah ke arah luar diikuti oleh kedua kacungnya. Aku mengikuti mereka, dan dengan tegang aku masuk ke dalam mobil Kijang Innova pembawa petaka itu. Aku duduk di kursi penumpang depan, Arman yang menyetir, sementara Anto dan Seto duduk di belakang.
Dalam perjalanan, kami semua diam, sedangkan aku sendiri dalam ketegangan yang luar biasa, karena aku berada semobil dengan para pemerkosaku. Tapi untungnya mereka tak melecehkanku lebih lanjut, dan mobil sialan ini mengarah ke rumahku.
Ketika aku turun dari mobil, aku mendengar Arman berkata, “Elly, sampai ketemu lagi, kapan kapan kita main main lagi ya”.
Dengan muak aku membanting pintu mobil, dan aku segera masuk ke dalam rumah sambil menahan tangis.
Aku segera melihat anakku. Agak lega melihatnya masih tertidur pulas.
Aku segera mandi dan keramas, membersihkan tubuhku yang sudah ternoda oleh adik iparku yang bejat itu, yang tega menyerahkanku pada dua kacungnya. Aku memang rindu bermain cinta, tapi itu adalah dengan suamiku sendiri, bukan dengan Arman, bukan dengan mereka ini. Apalagi diperkosa seperti tadi, sakit sekali hatiku rasanya. Tanpa sadar aku kembali menangis.
Aku tahu hari ini adalah hari pertama aku mengalami penghinaan seperti ini, dan ini bukan hari terakhir.
Terbukti dua hari kemudian, aku mendapat kiriman DVD dari Arman, yang berisi rekaman pemerkosaan terhadap diriku oleh dua kacungnya itu, dengan sebuah surat bertuliskan “Elly, lain kali kita bermain tanpa ikatan pada kedua tanganmu… kamu pasti akan lebih menikmatinya”.
Cerita Dewasa Bercinta Dengan Murid Ibuku
Cerita Dewasa Seks ini terjadi dikarenakan ibuku adalah salah seorang dosen di salah satu universitas. Cerita Sex ini tidak pernah aku lupakan karena sangat istimewa sekali dihatiku. Yuk kita simak aja gimana Cerita Dewasa Sex yang satu ini

. Ibuku adalah seorang dosen komputer di sebuah perguruan tinggi di *********** Ia memiliki banyak mahasiswa maupun mahasiswi dan karena kepiawaian Ibuku dalam mengajar, banyak mahasiswanya yang datang ke rumahku unuk meminta diajar secara privat. Kisah ini adalah nyata yang terjadi ketika Ibuku sedang tidak di rumah. Namaku adalah Joe. Saat itu aku sedang dalam masa pengangguran karenanya aku hanya tinggal di rumah sehingga membuatku sangat bosan karena kegiatanku sepanjang hari hanya menonton VCD dan bermain komputer saja.
Tetapi kebosananku berakhir ketika salah seorang mahasiswi Ibuku datang kerumah. Ingrid namanya, dia kuliah di Universitas **** ***** (edited). Karena Ibuku kebetulan sedang ada urusan, maka Ingrid menunggunya datang dikarenakan ada urusan yang sangat penting dengan Ibuku. Karena aku tidak ada pekerjaan dan aku sangat bosan dengan kegiatanku, maka aku menemaninya menunggu Ibuku. Tetapi, aku sengaja tidak memberitahukan kepadanya bahwa Ibuku sedang pergi ke luar kota bersama Bapakku selama beberapa hari. Jika kuperhatikan dengan seksama, Ingrid sama sekali tidak jelek. Bagiku dia bahkan menarik sekali, dengan proporsi badan yang bagus dan seksi dan dikombinasikan dengan rambutnya yang panjang tergerai dan hitam. Sekilas wajahnya mirip dengan Maudy Kusnaedi dan karenanya aku tidak bosan-bosannya menatap Ingrid sambil terus mengajaknya bercakap-cakap sambil menawarkannya minum segelas air jeruk.
Sampai suatu ketika, dia minta ijin untuk pergi ke WC dan aku menunjukkannya lokasi WC yang berada di belakang kamar orang tuaku. Di saat dia pergi kesana, aku memasukkan pil perangsang yang kubeli sewaktu aku masih berkuliah di luar negeri dulu. Pil perangsang itu larut dengan air jeruk tetapi tidak memberikan perubahan pada warna maupun rasa air jeruk itu sendiri. Setelah itu, aku hanya tersenyum-senyum memikirkan rencanaku selanjutnya sambil menunggu Ingrid keluar dari WC. Setelah Ingrid kembali dari WC, ia kembali duduk dan mengajakku ngobrol mengenai bisnis orang tuaku sambil meminum air jeruk yang kusuguhkan kepadanya. Beberapa menit setelah ia meminumnya, ia memperlihatkan reaksi dari obat tersebut, dia berkali-kali meminta maaf kepadaku karena ia merasa kegerahan dan setelah itu ia mulai membuka pakaiannya.
Di saat ia membuka pakaiannya, aku dapat melihat sosok Ingrid yang hanya mengenakan BH dan celana dalamnya. Hal ini membuat penisku mendadak berdiri dan siap dimasukkan ke “lubang kenikmatan”. Aku mengajak Ingrid ke kamarku sambil kuberikan alasan agar aku dapat menyalakan Air Conditioner sehingga dia tidak lagi kegerahan. Ia percaya saja dan mengikutiku ke kamar. Di dalam kamarku, ia duduk di ranjang sambil sesekali mengusap dadanya. Aku menjadi tidak tahan melihat adegan ini sehingga aku mulai mencium bibirnya. Ketika aku menciumnya, tidak ada perlawanan sama sekali. Kami bermain lidah hingga 10 menit. Dikala kami bermain lidah, aku mulai membuka BH dan celana dalamnya. Setelah dia bugil, kemudian aku membuka pakaianku sendiri. Disaat aku sedang membuka pakaianku, Ingrid mengusap-usap tubuhnya dan memainkan jari-jarinya di sekitar vaginanya sehingga membuatnya basah. Aku tidak tahan lagi maka kudekati vaginanya dan memainkan lidahku di dalam vaginanya.
Aku sempat terkejut karena ternyata Ingrid masih perawan sehingaa aku berpikir bahwa ini adalah hari keberuntunganku. Aku terus menjilati vagina Ingrid berulang-ulang dan diiringi dengan desahan Ingrid yang sangat sensual, “Hmm…, shhh…, aahh…”. Aku tidak peduli dan terus menjilatinya hingga beberapa saat kemudian Ingrid menjepit kepalaku dengan kedua kakinya sehingga membuatku menjadi sulit bernafas selama beberapa saat dan tubuhnya mendadak menjadi gemetar dan ia berteriak tertahan sambil melengkungkan punggungnya yang membentuk siluet yang indah sekali. Aku mengerti kalau dia sedang klimaks, aku senang sekali tetapi juga sekaligus belum puas, why? Karena aku sendiri belum memperoleh kepuasan darinya. Setelah ia terbaring lemas karena klimaks tersebut, aku segera saja memasukkan penisku yang panjang karena sudah tegang ke dalam vagina Ingrid. Ketika penisku merobek keperawanannya, ia berteriak kesakitan dan aku merasakan penisku telah dibasahi oleh darah segar keperawanannya, tapi aku tidak ambil peduli. Sambil kucium bibirnya yang seksi, tanganku bermain di puting susunya, juga kutusukkan penisku ke dalam liang vaginanya.
Teriakan yang tadi kudengar lama kelamaan berubah menjadi desahan-desahan dan tangannya mulai aktif memegang dan menekan-nekan selangkanganku seakan- akan menginginkan agar aku memasukkan penisku lebih dalam lagi. Tusukanku di dalam liangnya membuatnya mendesah-desah sensual dan memintaku mempercepat gerakan. Aku terus mempercepat gerakanku hingga dapat kurasakan vaginanya semakin basah. Ia memintaku mengubah posisi. Ia sekarang berada di atas. Dengan hati-hati ia menindihku dan memasukkan penisku yang masih tegang ke dalam liang vaginanya. Dengan posisi berbaring, kupeluk punggung Ingrid sambil menaik-turunkan tubuhnya sehingga aku merasa semakin nikmat karena pijitan vaginanya. Aku semakin mempercepat gerakan sehingga membuat adegan yang kami lakukan semakin panas karena Ingrid terus menggenjot tubuhku sambil tangannya memainkan puting susunya sambil sesekali menekan-nekan payudaranya yang cukup besar itu.
Setengah jam terus berlalu dan aku mulai merasakan seolah-olah akan ada ledakan dalam diriku dan dirinya. Aku mengetahui bahwa dia akan klimaks lagi karena dia semakin kuat mendesah dan juga semakin cepat menggenjot tubuhku. Aku semakin tidak tahan dan kusemprotkan cairan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya dan di saat yang bersamaan pula, Ingrid berteriak dengan disertai getaran hebat sambil semakin cepat menggenjotku. Penisku terasa seperti sedang di”pipis”in olehnya karena ada cairan yang mulai membasahi penisku. Setelah beberapa menit kami bersama-sama melepaskan nafsu, aku mencium bibir Ingrid dan memeluknya. Aku bermain cinta dengannya hingga sore hari dan kemudian kuberitahu padanya bahwa orang tuaku baru akan kembali seminggu kemudian. Tetapi di luar dugaanku, karena justru hal ini malah membuatnya senang karena itu berarti dia bisa tinggal untuk bercinta bersamaku selama seminggu. Setelah itu, aku dan Ingrid terus menerus bercinta di rumahku sampai dengan Ibuku kembali dari luar kota.
http://hebatpower.com/blog/
Novel – Si Jalang Seks [5]
Kira-kira jam sepuluh pagi baru aku datang semula ke rumah kak Bib sebab aku tertidur dan bila aku masuk aku lihat anak-anaknya dah siap mandi dan kemas berpakaian, aku juga nampak sarapan telah sedia tersaji di meja makan dan kopi masih berasap panasnya, pagi tu agak mewah sarapanku siap dengan telur separuh masak, jus oren dan roti bakar disapu mentega ala continental. Selepas bersarapan barulah si Zana sampai, ia mintak maaf kerana tak sempat datang awal sebab mak dan ayahnya balik terlalu lewat dan ia takut nak kayuh basikal tengah-tengah malam seorang diri.

Akupun cakap eloklah tak membahayakan diri. Adik cikgu mat ni dalam form v dan adalah satu subjek aku mengajarnya jadi aku dan dia taklah ada rasa segan macam biasa saja. Hari tu dia memakai blouse putih berbunga kecil di kolar dan berskirt pendek warna piruz jadi bila dia duduk dengan kakinya sedikit terbuka jelas kelihatan seluar dalamnya yang berwarna kuning. Anak dara tengah naik ni memang cantik malah ramai budak-budak minat kat Zana ni tapi aku tak pasti siapa yang berjaya menawan hati adik perempuan bongsu abang Matsom ni. Aku mempelawa dia sarapan sama tapi dia cakap dah sarapan cuma mengambil secawan kopi, Bib masih kalut membasuh pakaian di bilik mandi jadi selepas menutup makanan aku dan Zana beredar ke bilik tidur utama dengan anak-anak buahnya.
Kami mengeluarkan alat permainan di dalam bakul lalu membiarkan si kakak bermain manakala adiknya kami letakkan dalam katil berpagar supaya dia tidak jatuh, Zana duduk di birai katil dan aku di bawah jadi setiap kali aku mengangkat kepala aku terpandang celah kangkangnya, berbayang bulunya di sebalik panties kuning yang agak nipis. Zana perasan aku memandang tepat di celah kangkangnya lalu ia merapatkan kakinya, aku memandang mukanya lalu berkata bukakla luas sikit boleh juga aku tumpang tengok, ia senyum lalu mengangkang dengan luas sementara aku kian rapat menghadap kakinya, jelas nampak bulu-bulunya yang dah menghitam. Aku memberanikan diri memegang pehanya lalu perlahan-lahan aku mengusap ke atas hingga sampai betul-betul pada cipapnya yang bersalut panties kuning, aku menggosok manja cipapnya sambil menanti reaksi daripadanya marah ke atau sebagainya, namun aku lihat dia diam sahaja malah berteleku molek di birai katil lalu aku cium pangkal pehanya membawa ke cipapnya ia terkejut tapi aku memberi isyarat jangan bersuara, aku bangun lalu duduk bersebelahan dengannya dan tanpa berkata apa-apa aku merangkul badannya terus mencium bibirnya, ia meronta tapi aku tidak melepaskan pelukanku malah lidahku telah membelah bibirnya melolos masuk ke rongga mulutnya. Aku jolok lelangitnya serta ku hisap lidahnya dan tak lama ia memberikan respon balas yang sama dengan mengucup kemas bibir dan lidahku. Tanganku mula meraba-raba kawasan dadanya dan meramas-ramas lembut teteknya yang bersalut baju dan bra, aku membuka butang blousenya satu persatu hingga habis mendedahkan perutnya yang putih gebu, aku cuba menanggalkan cangkuk branya tapi tak dapat kerana ia tidak membenarkan, aku berhenti mengucupnya lalu merayu agar cangkuk bra dilepaskan, ia geleng kepala tapi aku minta juga dan akhirnya ia sendiri yang membuka cangkuk tapi enggan melepaskan branya jatuh. Perlahan-lahan aku menarik branya menampakkan sepasang payu dara yang mengkar kepunyaan si manis 17, saiznya sederhana cukup putih dengan aeriolanya berwarna merah muda serta putingnya yang kecil agak lebih gelap tapi tidak hitam.
Blouse dan branya dah terlucut habis mendedahkan bahagian dada serta perutnya aku tidak membiarkan begitu sahaja terus meramas-ramas tetek mengkar milik Zana serta menghisap putingnya silih berganti, Zana dah mula lupa diri malah aku dipeluknya dengan kuat sambil satu persatu butang kemejaku terlerai dan terus ku tanggalkannya, aku berusaha pula membuka cangkuk dan zip skirtnya lalu melondehkan ke bawah dan aku mengangkat Zana yang hanya tinggal seluar dalam itu ke tengah katil, aku membawa jari-jarinya ke cangkuk dan zip seluarku agar ia sendiri yang membukanya tak lama seluarku ditarik ke bawah dan hanya seluar dalam yang tinggal. Aku cuba tarik turun pantiesnya tapi Zana mengepit kuat tidak membenarkan aku berbuat demikian, aku menyelok masuk tangan ke dalam pantiesnya dan mula menguis-nguis bulu pantat serta biji kelentitnya, lama-lama Zana kalah juga lalu membiarkan tanganku bebas menggentel biji kelentitnya serta melurut alor cipapnya yang dah berair banyak, aku tak memberi peluang lalu pantiesnya ku sentap turun hingga ke tumit kakinya lalu Zana menguisnya jatuh. Dara manis 17 ni dah telanjang bulat dengan cipapnya dah terdedah tapi kakinya masih merapat, tundunnya agak tembam juga serta ditumbuhi bulu yang dah mula kasar agak lebat hingga menutupi bahagian atas labia majoranya. Biji kelentit Zana dah memerah bahana kena gentel, aku menguak kakinya dengan keras agar ia mengangkang lalu ku sembam mukaku ke cipapnya aku jilat, nyonyot, sedut, gigit malah ku kemam pantat dara manis ni sehingga ia mengerang kesedapan, habis rambutku ditarik-tariknya.
Aku tak pasti macamana tapi aku rasa seluar dalamku ditarik turun dan tak lama batang koteku terasa dihisap orang, mulanya aku heran juga sebab aku belum 69 dengan Zana jadi macamana dia boleh hisap koteku. Bila aku mengangkat kepala aku lihat Bib sudah telanjang bulat dengan mulutnya penuh berisi batang koteku. Sebelah tanganku meraba-raba cipap Bib yang dah mula berair, Zana terkejut bila menyedari kakak iparnya turut serta tapi Bib cepat-cepat memberi isyarat agar dia diam lalu membiarkan sahaja apa yang sedang dialaminya. Mulut Bib kini menghisap tetek Zana sambil tangannya mengusap manja rambut adik iparnya dalam keadaan merangkak, melihat situasi berkenaan aku mendatangi Bib dari belakang dan terus memasukkan batang koteku ke dalam pantatnya hingga santak habis. Dia tersenggut menahan asakanku dan Zana terbeliak matanya bila melihat cipap kakak iparnya kena tojah dengan cikgunya. Aku terus memainkan pantat Bib secara doggie sambil sebelah tanganku terus menggentel biji kelentit Zana. Setelah agak lama Bib memberi isyarat agar aku mencabut keluar dan menghalakannya ke arah cipap Zana pula, Zana kelihatan agak cemas bila merasakan kepala koteku mula menyentuh bibir pantatnya, aku membuka kakinya agar mengangkang lebih luas sambil Bib memegang kedua-dua tangannya, aku membuka bibir pantatnya dengan jari lalu meletakkan kepala koteku pada alornya yang dah terbuka sikit lalu menekan masuk perlahan-lahan, ku ulangi berkali-kali sehingga ia dapat terbenam pada benteng daranya dan ku biarkan bagi membolehkan cipap Zana menerima kehadiran batang koteku. Tiba-tiba Zana bersuara….tak mahu buat lagi….takut….kote cikgu besaq dan panjang nanti koyak burit zana….tolong kak Bib jangan teruskan….jangan biaq cikgu tutuh burit Zana. Aku mencium semula bibir Zana sambil Bib membisikkan sesuatu ke telinga Zana, aku menarik keluar koteku memasukkannya semula dan memandang muka Bib, ia memberi isyarat tanda ok lalu aku menarik nafas dengan sekali huja aku tekan sekuat yang mungkin ke dalam pantat si Zana, berderut-derut kepala koteku menyelinap masuk membelah kulipis dara Zana hingga setegah batang koteku dah terbenam dalam pantatnya. Zana menggelupur untuk melepaskan diri tapi Bib dengan cepat memegang kedua-dua tangannya sambil aku memegang kuat pehanya, ia menjerit menahan kesakitan bila daranya terpokah, aku menarik keluar koteku lalu sekali lagi aku membenamkan masuk, aku tarik keluar dan ku benamkan sekali lagi hingga santak ke pangkal rahim tak boleh masuk lagi, Zana dah berhenti meronta dengan mulutnya terlopong mengambil nafas, air matanya meleleh turun membasahi pipinya yang gebu, cipapnya juga berdarah lalu ku palit sedikit di keningnya. Batang koteku dah terbenam dalam pantatnya lalu ku biarkan ianya terendam aku menantikan reaksi Zana, perlahan-lahan cipapnya mula memberi respon dengan mengemut-ngemut kecil batang koteku, aku menarik keluar batang kote tapi sebaik sahaja sampai ke hujung ku benamkan semula berulang-ulang kali, bila ku rasakan dinding farajnya mula bertindak aku terus memainkannya seperti biasa menyorong tarik perlahan kemudian bertambah laju hingga terdengik-dengik dia menahan tojahan demi tojahan.
Bib juga dah melepaskan tangan Zana lalu membiarkannya memeluk badanku, aku membengkokkan sedikit kedua-dua kakinya lalu membawanya ke dada, Bib mengambil sebiji bantal lalu mengalas punggung Zana ini menjadikan bahagian cipapnya tersembul naik dah menambahkan kelazatan buat kami berdua….kalau tadi sakit yang diucapkan….kini sedap pula yang dikatakannya berulang-ulang kali sambil macam bersiul nafasnya keluar masuk. Aku terus menggodek dan membedal cukup-cukup cipap muda milik manis 17 tu hingga tiba-tiba keseluruhan badannya kejang ia memelukku dengan kuat lalu ku lepaskan kakinya bagi membolehkan ia mengapit punggungku, dinding farajnya mengemut dengan kuat batang koteku berulang-ulang kali sementara nafasnya tersekat-sekat, aku membiarkan sahaja Zana berbuat demikian maklumlah ini klimaksnya yang pertama jadi biarlah ia enjoy sepenuhnya nikmat senggama sulungnya. Kemutan dan kepitannya yang kuat itu membuatkan aku hampir-hampir memancutkan air maniku tapi terpaksa ku tahan bimbang kalau ia mungkin mengandung nanti kecualilah kalau aku mengetahui statusnya pada hari itu. Sebaik sahaja Zana mula tenang dan kemutan cipapnya tiada lagi aku cepat-cepat mencabut keluar lalu….aku meradak pula pantat Bib bertalu-talu dengan laju untuk menyegerakan gesaan memancut yang bertumpu di pangkal koteku, agar pancutan dapat ku segerakan….tolong Bib aku dah tak tahan nak memancut keluar, Bib cepat-cepat memegang batang koteku lalu mengulumnya serentak dengan itu air maniku mencerat keluar memenuhi mulut Bib, sebahagiannya terus ke rengkong lalu ditelannya, aku menarik keluar lalu membawa ke mulut Zana pula ia hanya berani membuka mulutnya tapi takut untuk mengulum lalu saki baki air maniku tumpah atas lidahnya, Bib meminta ia menelan jangan buang keluar dia akhirnya mengulum juga batang koteku lalu pancutan kecil air maniku yang akhir jatuh jauh di pangkal rengkongnya terus ditelannya. Barulah lega rasanya bila dapat memancutkan air mani dalam rongga (tak kiralah rongga mana asal jangan terbuang ke udara).
Bib membersihkan pantat Zana yang berdarah sambil bercakap hal-hal yang berkaitan dengan alat kelamin mereka, aku bertanya Zana hari itu hari keberapa kitaran haidnya kalau tak salah hari ke 13 atau 14 jawabnya….fuh nasib baik…. kalau pancut kat dalam tadi alamat tunggulah jawabnya kalau tak buncit kira betuah tak menjadi tapi kalau ikutkan hingga hari ini waktu subur kalau aku pancut jawabnya lekat. Selepas anak-anaknya tidur kami beraksi lagi dan kali ini si Zana dah tak banyak karenah lagi cuma yang tak sedapnya aku tak dapat nak pancut kat siapapun sebab Zana tengah subur Bib pula tak ketahuan lagi sebab haidnya belum turun tapi kalau pancut boleh lekat juga tak caya tanya kat depa yang baru beranak sulung tak lama bini depa buncit semula pasai haid tak mai ingatkan safe pancut-pancut lekat pulak, aku sarankan kat hangpa yang baru beranak sulung kalau menenggek tu jangan pancut kat dalam lagi atau kalau hangpa boleh tahan tunggu sampai kitran haid bini hangpa kembali normal (mahu makan 100 hari atau lebih selepas bersalin – mahu lebam kepala kote menahan) baru boleh pancut kat dalam taklah anak sulung dengan kedua tu bila besar nanti macam kembar saja sebab selang setahun sahaja.
Berbalik cerita aku, Zana dan Bib hari itu beround-round lagi kami main dan untuk membalas jasa baik aku Bib dengan rela hati membenarkan aku menojah lubang duburnya agar aku dapat memancutkan air maniku di situ malah ia juga membimbing Zana membiarkan aku menikam lubang duburnya buat pertama kali walaupun perit rasanya wadah kali pertama tapi Zana membiarkan juga aku memokah lubang duburnya yang ketat itu dan menjelang sore kedua-dua lubang dubur mereka merasa juga siraman air maniku. Kami berhenti menjelang minum petang, membersihkan diri, mengemaskan apa yang patut dan aku lihat kedua-duanya bersolek sakan menanti kepulangan abang Matsom. Aku turut menantinya di ruang depan rumah, menjelang senja abang Matsom sampai membawa tiga ekor burung ayam-ayam jantan yang dah siap berbuang bulu serta bersalai tinggal potong dan tumiskan dalam periuk sahaja. Malam itu kami puas makan gulai daging burung ayam-ayam yang lemak serta lazat itu malah di hujung minggu itu aku benar-benar puas makan daging berpeha-peha daging kak Bib dan daging Zana ku tibai, naik nyeri rasanya koteku bila berjalan.
Novel – Si Jalang Seks [4]
Novel – Si Jalang Seks [4]
Sebaik sahaja ustaz Rusli kembali berkursus dari KL beliau terus mengajak aku pulang ke kampungnya untuk menjemput adik perempuannya yang sudah disahkan bertukar sekolah. Kami bertolak pada malam hari dengan kereta baru dan besar yang dibeli oleh ustaz Rusli di KL, kalau mengantuk nanti hang pulak bawak katanya kepadaku yang duduk di sebelahnya manakala isterinya yang dah berkali-kali aku tojah tu duduk di belakang pura-pura tidur dan tidak mendengar percakapan kami.
Kampung ustaz Rusli agak jauh juga dan menghala ke utara, selepas pekan SP aku mengambilalih pemanduan kerana aku lihat dia dah mula mengantuk dan lagipun aku agak biasa juga dengan arah jalan yang bakal diambil. Tak lama ustaz Rusli tertidur jadi tinggallah aku sorang memandu di tengah malam buta. Bagaimanapun sebelum sampai ke sempadan P aku menggerakkannya supaya membantu aku memilih jalan kerana aku belum pernah pergi ke rumahnya yang membelah di tengah-tengah sawah padi yang melaut luasnya. Akhirnya sebelum subuh sampai juga kami ke rumahnya yang tersergam indah bagaikan rumah keluarga siri Dallas. Kami disambut mesra oleh ibu bapanya tapi aku enggan bersalin sebaliknya terus mengambil wuduk untuk solat subuh yang hampir masuk waktu, kebetulan surau terletak bersebelahan dengan rumah mereka jadi aku terus sahaja ke sana.
Selesai sarapan aku dan ustaz Rusli masuk tidur sebab kami tak cukup tidur bimbang pulak balik nanti mengantuk tak tahu siapa nak pandu kereta. Aku bangkit sebelum zohor, mandi dan terus tunggu masuk waktu tetapi dipanggil makan oleh mak hajjah jadi aku terus sahaja ke dapur. Aku kata makan kat sinipun boleh saya tak kisah sebab sayapun orang kampung juga. Merekapun menyajikan makanan, ustaz Rusli dan bapanya tidak turut sama kerana terpaksa keluar sebentar jadi hanya aku, emaknya, isteri ustaz Rusli dan adik perempuannya Ruslimah yang akan berpindah sekolah. Menurut ibunya ada seorang lagi adik lelaki ustaz Rusli tapi dah ke Siam mencari buruh sebab padi akan masak tak lama lagi, sambil tu aku mencuri-curi pandang Ruslimah cantek juga budaknya walaupun baru 13 tahun tapi susuk bangun tubuhnya macam perempuan 15 tahun cuma teteknya masih kecil lagi.
Menjelang pertengahan asar kamipun bertolak balik dan kali ini ustaz Rusli memandu dengan isterinya duduk di sebelah, aku dan adik perempuannya duduk di belakang. Tak lama aku lihat adiknya mengantuk lalu tertidur dengan kepalanya terlentuk di bahuku. Aku membiarkan sahaja dia tidur begitu, tak lama akupun turut tertidur dan hanya terjaga bila ustaz Rusli memberitahu kita dah sampai di AS dan akan berehat sebentar sambil menantikan Maghrib, dia memberikan isyarat supaya aku menggerakkan Ruslimah sambil dia dan isterinya telah bergerak masuk ke sebuah restoran. Aku mencuit bahu Ruslimah tapi tak sedar juga lalu aku pegang kepalanya dan mencium pipinya, dia tersedar memandang aku sambil tersenyum, aku merebahkannya dan terus mencium bibirnya dia terkejut tapi tak menolak cuma berbisik saya tak tahu bercium jawabnya, tak apa nanti cikgu boleh ajar tapi bukan di sini, sambil tanganku sempat meraba dadanya yang dah mula membengkak, lembut rasanya tetek muda yang baru nak mekar ni bila disentuh. Kami bangkit, aku terus mengunci kereta dan bergerak bersama memasuki restoran.
Perjalanan balik seterusnya aku pula memandu dan ustaz Rusli suami isteri duduk di belakang, tak lama merekapun tidur sambil berpelukan, maklumlah masih pengantin baru, aku berbual-bual ringkas dengan Ruslimah apa minatnya dan segalanya yang aku rasa perlu untuk mengetahui dirinya dengan lebih dekat. Sambil tu tanganku menggosok-gosok pehanya makin lama makin ke atas hingga sampai ke pangkal pehanya, dia membiarkan sahaja tanganku melekap pada cipapnya aku dapat merasakan yang cipapnya agak tembam juga lalu aku berbisik kepadanya dia dah datang haid atau belum dia jawab belum lagi dan cipapnya juga belum tumbuh bulu tetapi ada kekawannya punya yang dah berbulu dan ada dua orang dalam kelasnya dah datang haid, rupa-rupanya budak ni agak knowledgeable juga pasai fisiologi wanita jadi mungkin mudah sikit jarum aku nak masuk nanti.
Sebaik sampai aku terus meminta diri untuk balik ke krs aku sebab esoknya aku ada game dengan persatuan pemuda di situ, ustaz Rusli dan isterinya mengucapkan terima kasih dan meminta aku datang ke rumahnya untuk makan malam sebab tengahari aku pasti tak sempat. Semasa makan malam ustaz Rusli meminta adiknya ambil tuition dengan aku sebab pelajaran di sini agak lain sikit dan mungkin ada bab-bab yang dia dah tertinggal. Ruslimah angguk dan aku juga tak keberatan. Cuti sekolah bermula rakan rumahku semuanya balik ke kampung mereka masing-masing tapi aku tak dapat berbuat demikian sebab dah janji dengan Ruslimah nak bantu dia catch-up dengan apa yang dia dah tertinggal. Selepas hari itu Ruslimah sering datang ke rumahku belajar dan selalu juga dia membawa lauk untuk makan tengahari bersama di rumahku. Pelajarannya juga boleh tahan dan dia dari jenis budak yang senang di ajar.
Satu hari ustaz Rusli datang ke rumahku meminta aku tengokkan Ruslimah sampai dia balik sebab dia dan isteri terpaksa ke rumah mentua kerana mendapat kabar ibu mentuanya sakit tapi akan balik malam nanti. Aku jawab tak apalah lagipun masih ada yang perlu dipelajarinya. Aku dan Ruslimah sebenarnya dah selalu ringan-ringan tapi tak lebih dari itu sebab aku mengira dia masih budak lagi dan tak elok kalau buat lebih-lebih. Selepas makan tengahari aku ingat nak tidur sebentar jadi aku pesan kat Ruslimah nanti gerakkan aku untuk sambung semula pelajaran matematiknya, dia jawab baiklah. Selang seketika aku terasa ada orang berbaring di sebelah dan bila ku raba ternyata Ruslimah yang berbaring membelakangiku. Aku bangun duduk dan mencuit pipinya, dia berpaling menghadapku sambil tersenyum, aku terus mencium bibirnya dan kamipun mula bergumpal macam pasangan kekasih. Aku berusaha membuka baju kurungnya dan bila terlucut sahaja aku lihat dia tidak memakai anak baju jadi terserlah bukit muda yang baru tumbuh di dadanya. Tetek muda tu lembut benar dengan puting kecil yang memerah bila di gentel dan aku meramas-ramas tetek kecil milik Ruslimah hingga dia tersenggut-senggut menandakan berahinya mula memuncak. Aku berusaha pula membuka kain sarung yang dipakainya, mudah aje melurutkannya ke bawah dan terkejut besar aku bila mendapati dia tak memakai seluar dalam menampakkan pantatnya yang kecil tapi tembam tanpa ada seuratpun bulu yang tumbuh di situ cuma baru ada bulu ari yang baru nak menghitam di sudut sebelah atas cipapnya.
Aku yang sememang tidak berbaju sewaktu tidur hanya perlu melondehkan runner short yang ku pakai untuk meneruskan aktiviti pada petang itu tapi aku mahu bertindak dan mengajar Ruslimah cukup-cukup supaya dia mengerti apa yang bakal terjadi apabila bertemu batang pelir dengan pantat. Bila terkena gomol begitu budak ni naik lemas dan menutup matanya cuma nampak dadanya sahaja yang turunaik dengan kencang, aku mengalihkan fokus pengulitan kepada cipapnya pula. Ruslimah telah terkangkang luas menampakkan sejelas-jelasnya pantat budak perempuan berumur 13 tahun yang bertaup rapat tanpa relah alornya seperti pantat wanita dewasa. Aku terpaksa membuka kelopak labia majoranya untuk membolehkan alor pantatnya terbuka, fuh memang sah anak dara sunti dengan kulipis daranya penuh menutupi lubang cipap yang begitu merah. Batang pelirku mencanak tegangnya bila melihat cipap dara sunti yang menonjol bagaikan apam beras lepas dikukus. Aku melorotkan short yang ku pakai lalu membawa koteku ke mulut mungil Ruslimah, ia membuka mata bila terasa sesuatu di bibirnya. Aku mengisyaratkan ia membuka mulut agar kepala koteku dapat memasukki mulutnya. Perlahan-lahan ia membuka mulut lalu aku menolak masuk kepala koteku, ia choke lalu aku tarik keluar semula sambil memasukkan semula ke dalam perlahan-lahan sehingga suku bahagian dapat masuk dan memenuhi rongga mulutnya. Seterusnya secara spontan lidah dan bibirnya mengambil bahagian dengan mengulum dan mengulit koteku sehingga meleleh-leleh air liurnya keluar dari tepi mulut. Serentak dengan itu aku memusingkan badan untuk posisi 69 meletakkan kepalaku di celah kangkangnya seraya mengulum biji kelentitnya yang telah menegang habis, alor cipapnya juga telah menerbitkan air pelicin menantikan serangan yang seterusnya. Habis kesemua bahagian pantatnya ku kerjakan, Ruslimah mengerang-ngerang menahan serangan sehingga ia terpaksa meluahkan keluar koteku bagi mengambil nafas yang kian kencang, aku masih melekat di celah cipapnya sebab pantat dara sunti yang belum pecah dara selalunya “manis” jadi aku mesti ambil peluang ini sepenuhnya.
Serangan di bahagian cipapnya ku hentikan untuk memulakan sesuatu yang lebih berat lagi, aku lihat bibir pantatnya bergerak-gerak menandakan siempunya diri dah bersedia untuk menerima kemasukan kote ke lubang pantat buat pertama kali. Aku berbisik meminta ia menahan rasa sakit yang mungkin terasa bila koteku memasukki pantatnya, malah aku memangku kepalanya setinggi yang mungkin bagi membolehkan ia melihat sendiri bagaimana batang kote memasukki cipapnya. Perlahan-lahan aku meletakkan kepala kote ke alor pantatnya yang dah cukup berair lalu menekan masuk, alor berkenaan relah sedikit memberi laluan kepala kote memasukkinya, aku terus menekan sehingga tersekat di kulipis daranya. So far so good dan diapun berkerjasama dengan baik. Aku berbisik lagi lepas ni akan rasa lain jadi ia kena menahan, ia angguk tapi aku tak pasti ia tahu apa yang aku maksudkan. Aku membaringkan dirinya, menolak pehanya ke arah dada, membawa tangannya memeluk badanku, aku menarik keluar batang koteku dan menarik nafas dalam-dalam, meletakkan semula kepala kote ke alor cipapnya dan menolak masuk sehingga ke benteng daranya, ia memandangku menanti apakah tindakan aku selanjutnya, secepat itu juga aku menojah keras ke bawah rittt…rittt…rittt berderit rasanya bila kepala koteku menerobos masuk dan memecahkan kulipis daranya, Ruslimah terkejut serentak menjerit aduhhh….sakittt….sakitt cikgu, cukup jangan buat lagi sambil meronta untuk melepaskan diri dari kesakitan yang dirasainya, aku memeluk kemas badan dan pehanya agar ia dapat ku kawal sambil mengusap-ngusap dahinya, cikgu tahu tapi rus kena tahan sikit…lepas ni sakit akan hilang cayalah cakap cikgu….bila rontaannya reda aku henjut dan henjut berulang kali sehingga santak ke serviknya dan walaupun ia meronta tak ada gunanya sebab batang koteku dah terpacak dalam cipap kecilnya yang dah terpokah ku kerjakan.
Aku berhenti menghenjut lalu membiarkan rongga pantatnya mengemut-ngemut batang koteku, walaupun tak dapat masuk habis tapi aku cukup puas bila merasakan batang pelirku seperti disedut-sedut. Darah dara meleleh turun membasahi punggung kirinya cepat-cepat aku menyapukan jariku lalu ku palitkan atas keningnya (kegunaannya telah ku ceritakan dahulu). Aku lihat air matanya merembas keluar membasahi pipinya yang comel tu, aku menyeka air matanya lantas mencium pipinya sambil mengusap-ngusap manja rambut dan dahinya. Lama juga aku membiarkan koteku terbenam dalam cipapnya dan bila aku merasakan esakan tangisnya dan rongga pantatnya dah dapat menerima kehadiran batang pelirku, aku menarik keluar perlahan-lahan hingga ke hujung lalu ke benamkan semula jauh-jauh ke dalam cipapnya, ku ulangi berkali-kali dan setiap kali ianya terjadi ku lihat badannya terangkat menahan asakan batang pelirku yang menyelinap masuk ke cipapnya. Setelah itu aku memainkan pantatnya seperti biasa menojah keluar masuk perlahan-lahan dan semakin laju, ia dah menutupkan matanya semula tapi mulutnya terbuka mengambil nafas, ia mengerang-ngerang semula dan ku dengar halus suaranya….aduh….sedap bang…sedap….sedap sungguh bang….sedappp, aku membiarkan kakinya mengapit punggungku bila terasa klimaksnya sampai ia menolak naik punggungnya untuk merapatkan cipapnya menerima sedalam yang boleh batang koteku lalu klimaks, aku membiarkan seketika sampai ia reda sebelum meneruskan permainan keluar masuk. Kami main cara doggie pulak, nampak jelas bibir pantatnya turut tertolak ke dalam menuruti pergerakan koteku masuk dan melekat keluar bila kote ku tarik, tak lama ia jatuh tersembam dan klimaks sekali lagi, aku tak berani menindih sepenuh badannya bimbang mencederakannya maklumlah ia masih kecil lagi jadi aku mengiringkan badannya lalu memainkan semula dengan rancak sehingga terhinggut-hinggut badannya menahan tojahan demi tojahan tak lama ia mengejang semula lalu ku peluk badannya kemas-kemas membantu ia klimaks sekali lagi, ia dah hampir lembek bila ku telentangkan semula sambil ku mainkan lagi cipapnya secara mengatas, aku tak pasti sedalam mana yang masuk sebab aku dah tak dapat menahan radakan demi radakan yang ku buat untuk menyegerakan pancutan air mani yang dah berpusat di pangkal koteku, aku meneruskan asakan dan membenamkan sedalam yang dapat ditembusi oleh batang pelirku lalu memancutkan air maniku ke wadah pantatnya sebanyak yang mampu dipancutkan. Banyak juga air mani yang keluar sebab dah lebih seminggu airku tak keluar, aku berani memancutkan ke dalam cipapnya sebab aku tahu dia belum datang haid lagi jadi masih safe kalau lepaskan kat dalam. Setelah semuanya tenang barulah ku tarik keluar batang pelirku yang masih keras, ku lihat air mani berserta air mazinya turut meleleh keluar dari alor cipapnya jatuh ke alor dubunya sebelum jatuh ke cadar tilamku. Aku mencempungnya ke bilik air kerana aku tahu anak dara lepas kena main mesti terkencing punya, banyak juga ia kencing sambil berkerut dahinya menahan pedih, aku lapkan sahaja cipapnya dengan kain basah untuk mengelakkan rasa pedih kalau dibasuh waktu itu. Aku membawanya semula ke katil lalu mencium pipi dan bibirnya. Ia memandangku lantas memeluk leherku sambil tersenyum manja, aku bertanya apa dia rasa ia jawab semuanya ada, sakit, pedih, perit, senak, sedap dan yang paling best katanya tak tahu nak cakap macam mana bila ia datang rasa nak tanggal cipapnya menahan rasa sedap yang bergetar ke segenap tubuh. Aku cakap itulah klimaks dan bukan semua orang dapatnya jadi orang yang dapat klimaks setiap kali senggama boleh dianggap bertuah merasai nikmat bersetubuh.
Ruslimah beritahu patutlah ia selalu dengar kakak iparnya mendengus-dengus ingatkan sakit rupanya sedap, ia selalu mengendap ustaz Rusli menenggek kakak iparnya dan petang tu dia pula kena tenggek. Malam itu kami main lagi dan kali ini berbagai gaya aku ajarkan, kebetulan ustaz Rusli tidak pulang malam itu dan hanya sampai kira-kira jam sebelas pagi esoknya. Aku masih terus menenggek dan memainkan pantat Ruslimah bila saja berkesempatan tetapi menghentikannya terus sebaik sahaja ia mula kedatangan haid kira empat bulan selepas tenggekan pertama dialaminya. Ku cakapkan selepas ini tak boleh main pantat lagi tapi ringan-ringan tu boleh sebab takut ia akan mengandung macam perut kakak iparnya yang dah membengkak masuk tujuh bulan kandungannya, ia mengerti dan perlahan-lahan hubungan seks aku dengannya terhenti tapi ku ganti dengan menunjukajar pelajaran sehingga ia keluar sebagai pelajar terbaik keseluruhan tingkatan satu pada tahun itu.
Bagaimanapun kegiatan seks aku dengan orang lain masih berterusan dan sesekali kak Esah mendesak aku memainkannya terutama bila suaminya tiada di rumah.
SEX DENGAN SUAMI COUSIN
SEX DENGAN SUAMI COUSIN
First aku nak bagi tau…masa tu umur aku 20 tahun n ngah blaja kat universiti kat utara malaysia. so da satu cuti mid term tu aku tak balik kampung n decide nak tinggal kat rumah akak sepupu aku yang berdekatan dengan kolej tempat aku blaja. Aku memang selalu lepak kat situ hujung-hujung minggu. so aku kire rapatlah dengan akak sepupu aku, ina n suami dia, zarul. abang sepupu aku ni dala handsome, baik lak tu. perempuan mane tak cair. so kirenye aku da ‘crush’ gak la dengan abang zarul ni. so…nak dijadikan ceritanye…akak sepupu aku ni kebetulan dihantar berkursus di kl selama 2 minggu tu. so tinggal aku n abang sepupu aku n anak dieorang yang umur setahun lebih je kat rumah. so aku pun mula la merancang strategi untuk menggoda abang sepupu aku ni. aku ni jenis yang suke pakai baju yang seksi2 kat rumah. memang abang zarul da biase tengok aku pakai baby-t n seluar pendek. so sehari selepas pemergian akak sepupu aku tu……so lagi seksi la baju yang aku pakai. aku sengaja mengenakan sleevelss putih nipis n seluar pendek yang ketat masa kat rumah.

dala tetek aku ni besar. macam nak terkeluar je dari baju. masa bertembung dengan abang zarul kat dapur die tegur aku..’mak aih…seksinye ari ni…lawa betul la adik abang nii… aku senyum je…plan menjadi..jeritku dalam hati….. so malam tu lepas makan malam…aku duduk menonton tv dengan abang zarul..anak die da tidur da..aku sengaja tak pakai bra…so nampak la puting tetek aku terjojol la di baby-t putih yang aku pakai malam tu. aku tengok abang zarul ni asyik usha2 tetek aku je dari kat meja makan tadi…duduknya pun tak menentu…gelisah…’nape reen tengok abang cam gelisah je dari tadi? rindu kak ina ek?’….die cume tersenyum….’abang sunyi la tido sorang2 malam ni’..’yeke, kalo sunyi nak reen temankan ke?’….’nak!!’…aku gelak..’reen gurau je la. k la, reen tido dulu k. selamat malam’… belum sempat aku berdiri dia tiba2 tarik tangan aku dengan kuat dan menyebabkan aku terduduk di pangkuan nye. die merenung ke dalam mata ku n terus mengucup bibirku berkali2 dengan penuh bernafsu…aku membalas setiap kucupannya…tangannya mula mengusap belakang ku dan masuk ke dalam bajuku…badanku diusap lembut penuh nafsu…aku semakin lemas dengan perbuatannya itu. kemudian dia menyembamkan mukanya ke dada ku dan menggomoli tetek ku yang masih beralas dengan bajuku. aku terus menanggalkan tshirt ku dan sepantas itu dia terus menggomoli tetekku. tetkku diramas dan dihisap semahu-mahunya. dia membaringkan aku di atas sofa dan masih menggomoli tetkku. aku menanggalkan kain pelikat yang dipakainya dan terus mendapatkan batang yang semakin mengeras dan panjang. kuusap dan kuurut batang itu. abang zarul berdengus pabila aku melurut2 laju batang nya. aku semakin ghairah dengan permainan abang zarul…buritku sudah basah…abang zarul melurutkan seluar yang aku pakai dan pantas menyebamkam mukanya di celah kangkangku…aku mengerang sebaik saja lidahnya mula menjilat2 kelentitku yang basah. punggungku terangkat bila saja dia menyedut biji kelentitku semahunya. aku mula meraung kuat. aku sudah tidak peduli jika didengari jiran2…yang pasti aku betul2 berada di puncak kenikmatan…kepala abang zarul kutekan lagi ke celah kangkang ku agar lidah itu terus menjilat kelentitku…dia memainkan lidahnya di lubang vagina ku…aku berdengus kuat…aku kegelian dan kenikmatan yang teramat sangat apabila di menjolok lidahnya ke dalam vaginaku..aku merasakan puncak syahwatku yang pertama dengan memancutkan air mani yang banyak ke dalam mulut abang zarul malah dia tidak terus berhenti. bahkan semakin ligat menjilat kelentitku menyebabkan klimaks ku bertahan untuk beberapa minit… kemudian abang zarul bangun lalu mengacukan batangnya ke buritku yang basah…perlahan2 dia menekan masuk batangnya…aku mula merasa perit…aku hampir terjerit apabila abang zarul menolak masuk batangnya dengan kasar…ngilu kurasakan pada ari2 ku…abang zarul berhenti seketika sebelum mula menghenjut perlahan…acara sorong tarik dimulakan dengan rentak perlahan…sakit yang pada mulanya mula bertukar nikmat…aku memeluk bahu abang zarul sambil kami berkucupan…kemudian rentak mula menjadi laju…aku menjerit kuat penuh ghairah dengan kenikmatan geselan batang abang zarul yang panjang di dalam buritku…ku merasakan akan mencapai klimaks keduaku tidak lama lagi….seakan tahu..abang zarul melajukan henjutannya menyebabkan aku meraung dan memancutkan air maniku untuk kali yang kedua serentak bersama abang zarul yang kemudiannya memancutkan berdas2 air maninya ke dalam buritku. abang zarul terjelapuk di atas badanku tanpa suara…cuma ombak dadanya sahaja kencang keletihan…akhirnya kami tertidur berpelukan sehingga pagi.. selama 2 minggu itu aku menjadi isteri kepada abang zarul…aku bebas telanjang di dalam rumah…dan kami sentiasa melakukan seks….abang zarul suka menghisap putingku…sehingga sekarang kami masih melakukannya walaupun dia sudah mempunyai 3 orang anak.
Teknik & Posisi Bersetubuh
Teknik & Posisi Bersetubuh
Suami di Atas
atu lagi cara untuk merangsang kelentit isteri ialah dengan suami mengalihkan badannya sedikit ke depan apabila seluruh batang zakar terbenam. Ini akan menempatkan tundun suami diatas kelentit isteri. Bahagian ini sekarang dapatlah dilenyek pada kelentit isteri bersama-sama tanpa batang zakar disorong-tarik. Dalam posisi ini kebanyakan lelaki dapat ‘tahan’ lebih lama dan isteri dapat mencapai kepuasan klimaks melalui rangsangan terus-menerus pada kelentit.Pasangan dapat mengubahsuai kedudukan dengan suami berdiri atau melutut di tepi katil dan melakukan ‘push-up’ ke atas isteri. Dengan kaki terjuntai ke lantai, isteri lebih mudah melonjak ke atas/bawah untuk menyambut batang zakar suami.
Untuk mendapat sedikit kawalan pada tusukan zakar, isteri boleh membuka kaki atau melipatkan kaki dikeliling pinggang suami. Dengan cara ini isteri boleh memberi isyarat laju-perlahan dengan menekan tumit pada pinggang suami. Isteri juga dapat mengunci kedudukan apabila beliau ingin membenam zakar suami untuk kemutan orgasma bila ianya berlaku.
HARGA RM 69 TERHANGAT DI PASARAN!!!
FUNGSI DAN KELEBIHAN


